The History of Triple-S Net Part 2

Aye

Menyusul kesuksesan yang luar biasa (bohongnya) dari perjalanan Journey to the West, alias mencari Kitab suci ke Barat. Dan mengingat animo yang luar biasa (sepinya), maka saya memutuskan untuk melanjutkan cerita Box Office The History of Triple-S Net Part 1
Hmm.. sampe mana yah ceritanya. A~HA! *dengan mata berbinar dan bunyi lampu ‘TING’ di atas jidat

OWNINGG!!

“Dra.. gw serius! koq lo malah lempar gw pake mouse sih..?!” Gerutu Arab Raja Minyak sambil mengoles minyak khas penumbuh jenggot ke jidatnya yg berubah warna menjadi merah marun.

“Sorry sorry nggak sengaja..” Sambutku sambil mengelap muka saya yang belepotan abu rokok lantaran dilempar asbak penuh puntung sama si Arab. Katanya dia juga nggak sengaja. Sialan!

Friendship : Past, Present, Future

Setelah wajah rupawan ini sudah bersih bersinar Sunlight. Permainan pun kembali dilanjutkan. Riuh ramai satu sama lain berteriakan.

“Gw yang buka ya..”

“Tar lu langsung stun yah tot..”

“Jangan lupa ulti nyett… tooot torotot”

Luar biasa emang ini Dota. Dalam sekejap obrolan standar khas anak anak warnet diubah layak nya mereka yg biasa menghuni kebon binatang dan tempat pelacuran. Tarikan napas mulai dalam, tanda big battle sebentar lagi dimulai. Dann….

DHUAR!! Loh kok tiba tiba layar PC menghitam? Lah lah.. Komputer komputer di sebelah kiri dan kanan juga mati. Eladalah… ini kenapa lampu serta kipas angin ikutan metong ?! Oalahh… ternyata eh ternyata, Stabilizer yang dalam keseharian hidupnya menjadi penyangga nyawa semua komputer di warnet rupanya telah dilempar botol Es-tea sama si Arab barusan. Doi kesel rupanya daritadi ucapanya saya hiraukan.

“Gila lu RAB! Mikir apa sih??”

“Ah… sabodo tai, ayo ndra ikut gue.. kita buat warnet!”

“Terus ini stabilizer gimana?” ujarku panik melihat listrik sudah mulai konslet kemudian menimbulkan jilatan api

“Waduh… “ Si Arab malah mengeluarkan ekspresi dongo khas Bajuri. Rupanya kejadian lempar botol tadi tidak lain hanyalah kekhilafan beliau saja sebagai Hamba Allah.

“Kita kabur ndra.. KABUR!!” ujar Arab sambil menarik tangan kiri saya dan berlari kencang.

OPerator YU… MARI Net yang nampaknya sudah terbiasa menangani para pelanggan yang demen SMK (Sehabis Main.. Kabur) tidak tinggal diam. Diubernya kami sambil mengacung acungkan GOLOK PEMBUNUH NAGA yang legendaris itu. Panik karena nggak mau mati konyol, Arab mengubah tujuan jejak larinya.

“Rab kok kesini si kita larinya…”

“Udah lu pecaya ma gw..”

“Bukan gitu rab… INI KAN KITA DI LANTE 2.. ELU BUKANNYA LARI KE TANGGA.. MALAH LARI KE JENDELA!!” tukasku panik, melihat muka Arab yang tersirat dah putus asa… Memilih mengakhiri hidupnya daripada mati digebugin OP warnet.

“Sante dra.. gw bilang lompat .. lompat ya… satuu.. duaaaa…. LOMPAT!!”

Swiing… Kita berdua melompat via jendela lebar dengan amt romantis dan dalam momen satu detik kedepan serasa menjadi Neo dan Trinity-nya The Matrix, namun detik berikutnya…

BRAK!!

nyungsep di tanah!

Hari itu pun kita habiskan dengan patahnya tulang kaki dan ekor, menangisi perihnya cedera yang dialami di RSCM.

***

Hari kedua, tiba tiba kami sudah sembuuh! Namanya juga cerita lebay, pasti ada kacang ajaibnya lah buat memperpendek durasi. Sekarang Arab, Kurus dan saya akan memulai hari pertama yang menjadi Hari Tonggak Proklamasi. Hari ini hari berburu alias hunting aka survey tempat. Arab mengajak kakak wanitanya yang belakangan diketahui bernama Si Minyak. Minyak membawa supir… ups pacarnya tho, yang diidentifikasikan bernama Jin Ancol. Berlima, kami sekeluarga (sekeluarga?) turut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka. Ku duduk samping pak kusir… (Ahh.. lacurrr mental backing vocal begini nih..). Destination pertama : Pondok Indah Mall (WTF?)

Ok, these guys surely had a lotta money. Itu pikiran saya ketika Arab dan Minyak menyebutkan destinasi pertama kita. Impian menyewa satu ruko besar di Mall elite muka bumi Indonesia untuk kemudian dibedah menjadi Home Base elite gamers Jakarta. Whoo.. whoo whoo... ternyata jauh jauh ke PIM hanya untuk… MAKAN (?!!!). Muter muter di Mall besar ini dari siang sampai sore, dan ketika surya tenggelam kita baru survey lokasi. Yeah. Total 6 lokasi yang didatangi (dan rata rata nggak cocok) akhirnya kami memutuskan kalau survey hari ini ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. (??!!) Berakhir lah hari pertama proklamasi kita dengan penuh kesia-sia-an.

***

Pagi menjelang, ringtone HP saya berdentang. Ceritanya ini sudah mencapai hari kedelapan sesudah hari Deklarasi Proklamasi ngemeng doang itu. Si Arab. Dia mengumumkan kalau sudah menemukan tempatnya. He found the place! At last! Dengan langkah gembira saya menuju TKP, alangkah kagetnya saya melihat tempat yang nggak jauh dari rumah. Lokasi yang bertatapan langsung dengan kuburan Kramat Sentyong. Dan.. KETUTUPAN PAPAN NAMA RUKO REFLEKSI YANG BERDIRI TEPAT DI SEBELAHNYA!

“Rab.. yakin lu ini tempatnya?”

“Yakin dra, gw dah DP nih.. buat setaun”

The Fuck? Donald Trump mengajarkan kita semua lewat Reality Shownya -The Apprentice- kalau ingin berwirausaha, kunci pertama adalah Location, Location, Location. Okey, kita sudah gagal di pintu pertama kalau hari ini mesti menjadi Pegawainya Donald. Look at the good side. At least, saya usah rugi di ongkos ketika nanti warnet ini didirikan. Dengan luas sekitar 5 hektar.. eh maksud saya 50x50meter (mungkin.. bukan tukang gali kubur soalnya, kurang paham menghitung luas ukur ruangan), mungkin bisa lah ini dijadikan tempat usaha Game Center. Kalau menemui tembok dan menyerah, kapan jadi orang besar? Break The Walls DOWN! Yeah! Optimis! Ternyata di hari kesembilan lah, Gema Proklamasi itu berkumandang. Penuh rasa haru kujabat tangan Arab yang berbulu domba. Sambil tersenyum kita ayunkan kedua belah tangan kita yang terjalin. Today, is gonna be the day that we’ll never forget in our entire life….. (maybe)

Pujangga berkata seribu kata pun takkan cukup untuk mendeskripsikan cinta, tapi bagi saya seribu kata sudah cukup untuk cerita ini. CAPEK WOYY!!

Bobo time… masih bersambung jeuuunggggggg

Explore posts in the same categories: Daily Life :: things that i'll never forget in my entire life

3 Comments on “The History of Triple-S Net Part 2”

  1. devas39 Says:

    wkwkwk kocak asli… ndro … bisa aja lo bahasanya wkwkwkw KATROOOOO!!!!!!!!!!

  2. sleepyfoxz Says:

    HAhahahaha.. kebanyakan lebai nih tapi gw, kebiasaan begaul ma Ruben


  3. [...] sinis produser dan hempasan angin lalu oleh para pembacanya di cerita berdasarkan kisah nyata The History of Triple-S Net Part 2, Saya Sleepyfoxz perlu merasa menghentikan dahulu rasa Pe-De yang terlalu berlebihan dan kembali [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.